Ia datang seperti tanpa dosa
Ia lemparkan senyum semanis kopi dalam cangkir yang sedang kuminum
Lalu mulai hangatkan malamku
Ribuan purnama rasanya bercakap denganmu
Hingga jemariku melepuh kehabisan kata
Namun kita tetap bersua
Berselimut hangat bualanmu
Berdansa dengan segala impi maya
Kini nyatanya aku tak lebih seperti ampas kopi hitam yang kau sisakan dicangkir itu
Setelah legitnya kau hirup lalu aku kau lupakan
Begitu lihai engkau meracik segala bumbu penyedap rindumu
Lalu kau cekoki mulutku dengan dustamu
Lalu dengan entengnya kau akui semua
Dan kau tak peduli segala carut marut perasaanku
Segala harapanku yang kau lambungkan begitu tinggi kau hancurkan tanpa perasaan
Aku memunguti semua luka itu sendiri
Menata hati yang remuk lalu bergegas pergi
Memang segalanya tlah kucium sejak lama
Aroma busuk segala drama itu
Anyirnya bau bangkai yang kau simpan
Namun aku slalu menutup indra penciumanku dengan wewangian cinta yang selalu kau taburkan disekelilingku
Jadi selama ini aku hidup dalam dunia haluku dan kamu penulis skenario jitu
Aku hanya intermezo seperti yang sering aku bilang, no more!
230120
- rad -

Komentar
Posting Komentar