Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2011

TANPA KATA 2

sudut alun-alun bercerita tentang kegusaran di satu senja saat cemas itu mencekik mengikat leherku tanpa pernah kau tahu hanya kubisiki pada senja yang merangkak dekat wajahku kulayangkan pandang disudut jalanan bising itu seperti sepi  manusia tampak seperti manekin-manekin yang membisu seperti jiwaku yang terdiam tak berteriak sepi dikeramaian hanya gemeletuk gigi beradu menggigil lalu kutuangkan kopi ingin menyusuri malam berduaan denganmu biarlah rasa damai itu bersamaku bersama kita malam ini biarlah kutinggalkan sejenak resahku di rimbun beringin lalu kuterdiam menjajaki hatiku sendiri angin meniup ujung-ujung daun  menyerunya untuk menggelitiki leherku alun-alun itu lengang  sementara engkau masih terdiam  menikmati dendang dari sebuah gitar usang aku ingin menemanimu menyusuri malam tapi sungguh tak ingin bercerita biar kita menangis dan bercakap dalam ruang rasa biar kita duduk tanpa gelak biar kita resapi lagi. sekali lag...

HUJAN PAGI INI

Lepas kususuri mimpi, ku menemui hujan pagi ini Gerimis merontakan tangisnya, hingga ku tadahi dikedua tanganku Lalu ku usapi mukaku dengan dinginnya Musim-musim itu lengang tanpa desahan rintikmu   Aroma tanah basah ku hirup hingga resap ke hatiku Lalu kumpulan laron berlarian Menggerombol dilampu-lampu pijar Ia turut berpesta. sekian lama berkerontang Seperti hatiku yang mendamba kesejukan   Tlah ia curahkan air dari langitNya Memberi nafas bagi tiap jiwa-jiwa nestapa Butir-butir itu berkilau seperti cahaya yang mendamaikan Bumi tlah menadah setiap kepedihan yang ia ciptakan   Bumi yang kokoh akan menopang setiap derai-derai air mata resahmu Sementara biarlah air mata ini kuhimpun sendiri. kurangkai sendiri Seperti hujan yang tak pernah menapak bumi 191011 ~rad~

TRIMAKASIH BIJAKSANA

cahaya mata itu meneduhkanku sekian lama berdiri disampingku  tak pernah bosan, tak sekalipun mengingkari ia tak sesempurna pelangi  tapi tak pernah letih memberikan warna warni ia menyapaku saat aku letih saat desak rasa tak mampu membagi bahagia saat jiwa diliputi muram ia datang membawaku mengitari istana hatinya yang indah menjamuku dengan secangkir madu cinta lalu bersulang hingga senja terlelap ia memijariku. menitipkan lentera yang memayungi hatiku ia teguh seperti karang. selalu ada mendekap dinginku seperti mentari hangatkan teras rumahku ia bukan arjuna. tapi ia mampu mematahkan egoku dengan panah-panah yang ia lesatkan tepat di jantungku trimakasih lelakiku atas setiamu yang tak pernah surut trimakasih telah menjadi kekasih bagi jiwa yang tak sempurna ini trimakasih akan semua kemaklumanmu atas diriku trimakasih bijaksana ~rad~

DALAM RINTIK

  Dalam rintik ada perih  Ada bahagia yang tersandera    Ada tawa yang tak sempat pecah Ada sepi mengalir dalam garis garis hujan    Dalam rintik kutemukan nafas bumi yang tercekik    kutemukan hasrat bahagia yang terhempas kutemukan ketidakberdayaan Dalam rintik ada luka  A da kesakitan yang tak terkatakan     Ada bungkam yang berbicara lewat gemericik. Ada damai yang menyimpan letih  ~ rad ~