sudut alun-alun bercerita tentang kegusaran di satu senja saat cemas itu mencekik mengikat leherku tanpa pernah kau tahu hanya kubisiki pada senja yang merangkak dekat wajahku kulayangkan pandang disudut jalanan bising itu seperti sepi manusia tampak seperti manekin-manekin yang membisu seperti jiwaku yang terdiam tak berteriak sepi dikeramaian hanya gemeletuk gigi beradu menggigil lalu kutuangkan kopi ingin menyusuri malam berduaan denganmu biarlah rasa damai itu bersamaku bersama kita malam ini biarlah kutinggalkan sejenak resahku di rimbun beringin lalu kuterdiam menjajaki hatiku sendiri angin meniup ujung-ujung daun menyerunya untuk menggelitiki leherku alun-alun itu lengang sementara engkau masih terdiam menikmati dendang dari sebuah gitar usang aku ingin menemanimu menyusuri malam tapi sungguh tak ingin bercerita biar kita menangis dan bercakap dalam ruang rasa biar kita duduk tanpa gelak biar kita resapi lagi. sekali lag...
Catatan perempuan yang gak hobi baca buku tapi suka nulis