Maafkan hatiku yang masih selalu penuh keluh
ketika sesak selalu tak bisa kusembunyikan
ketika hampa menghimpit diantara kebosanan-kebosanan itu
semua tak kurencana untuk menjadikannya keluh
maaf juga aku kadang lebih memilih mengadu pada kertas-kertas usangku
mengadu pada pena kekosongan ini
menduakan keberadaanMu
tapi bukankah tiap detak hatiku KAU selalu kupanggil
dan KAU pun lebih tau dari apapun juga tentangku
tentang hatiku, tentang apapun yang mereka tak tahu
semua yang kukisahkan dalam perih itu adalah benar adanya
mungkin KAU pun juga menitikkan air mata untuk setiap takdir yang KAU toreh
Setiap saat selalu kucari arti dalam himpit ini
menegakkan setiap tiang-tiang hatiku yang rapuh
hanya untuk tetap melangkah dalam jalan dimana KAU ada
walau kadang absurd, walau kadang tak penting dimataMU
karena aku kadang masih melenggang jauh
sampai akhirnya titik pilu ini yang menyeruku untuk mendekat lagi, meratap lagi
hingga mungkin KAU bosan
hingga mungkin tau apa yg ingin ku ungkapkan
tanpa menatapku, tanpa mencium harumku
bahkan tanpa mendengar aku bicara
KAU pasti juga tahu sebait yang ingin ku ceritakan
sebelum angin malam menguping KAU pasti telah mengetahuinya
karena belum sempat ku adukan pada langit
bahkan pada kecoa yang sedang lelap didapurku
semua hanya ENGKAU yang tau
hampa yang menjerit tak bersuara ini lebih sakit dari apapun juga
berdiam menghitung bait demi bait kekosongan
merantai kekuatan untuk tetap berdiri menegakkan kepala.
Oh tuhan rinduku sejujurnya begitu hebat padaMU
melebihi hebatnya rindu pada kekasihku
rindu ingin berkisah tentang kebuntuan ini
rindu membasahi malam saat kita bercakap dalam senyap
~rad~
Komentar
Posting Komentar