Maafkan hatiku yang masih selalu penuh keluh ketika sesak selalu tak bisa kusembunyikan ketika hampa menghimpit diantara kebosanan-kebosanan itu semua tak kurencana untuk menjadikannya keluh maaf juga aku kadang lebih memilih mengadu pada kertas-kertas usangku mengadu pada pena kekosongan ini menduakan keberadaanMu tapi bukankah tiap detak hatiku KAU selalu kupanggil dan KAU pun lebih tau dari apapun juga tentangku tentang hatiku, tentang apapun yang mereka tak tahu semua yang kukisahkan dalam perih itu adalah benar adanya mungkin KAU pun juga menitikkan air mata untuk setiap takdir yang KAU toreh Setiap saat selalu kucari arti dalam himpit ini menegakkan setiap tiang-tiang hatiku yang rapuh hanya untuk tetap melangkah dalam jalan dimana KAU ada walau kadang absurd, walau kadang tak penting dimataMU karena aku kadang masih melenggang jauh sampai akhirnya titik pilu ini yang menyeruku untuk mendekat lagi, meratap lagi hingga mungkin KAU bosan hingga mu...
Catatan perempuan yang gak hobi baca buku tapi suka nulis